◼️ Kelompok Sedap Malam
Di antara sepuluh kelompok yang menjadi bagian dari keluarga besar Majelis Ta'lim IWAMIT On Air, ada satu kelompok yang namanya begitu khas dan mudah dikenang, yaitu Kelompok Sedap Malam.
Namanya mungkin terdengar sederhana, tetapi di balik nama itu tersimpan semangat kebersamaan, kekompakan, dan persaudaraan para jamaah yang dipertemukan oleh satu tujuan: tholabul 'ilmi, menuntut ilmu dan terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Sedap Malam, sebuah nama yang sederhana, tetapi menyimpan makna yang begitu dalam. Seperti bunga yang semakin harum ketika malam tiba, Kelompok Sedap Malam hadir membawa keharuman ukhuwah, semangat menuntut ilmu, serta kebersamaan yang terus tumbuh di tengah perjalanan menjadi insan yang lebih baik.
Kelompok Sedap Malam dikenal sebagai salah satu kelompok dengan jumlah anggota yang banyak di M.T. IWAMIT On Air. Banyaknya anggota bukan sekadar angka, tetapi menjadi gambaran bahwa semakin banyak hati yang ingin berkumpul dalam kebaikan, semakin luas pula ruang untuk saling menguatkan. Meskipun para anggotanya berada di berbagai tempat di Taiwan, jarak tidak menjadi penghalang untuk tetap bersama. Melalui ruang online, mereka hadir dalam satu majelis, saling menyapa, saling menyemangati, dan bersama-sama menjaga semangat untuk terus belajar.
Ada satu yel-yel yang menjadi ciri khas mereka:
“Semakin malam semakin sedap. Tholabul 'ilmi yuk. Rukun agawe santoso. Yen ora rukun ya dirukun-rukune to yo yoo. Allahu Akbar Barakallah"
Yel-yel tersebut bukan hanya sekadar seruan untuk membangkitkan semangat. Di dalamnya ada pesan yang sederhana namun dalam: mari belajar, mari rukun, dan mari menjaga kebersamaan. Sebab bagi Kelompok Sedap Malam, majelis bukan hanya tempat untuk mendengarkan kajian. Majelis adalah tempat bertemunya hati-hati yang ingin tumbuh dalam kebaikan.
Di tengah kesibukan sebagai perantau di Taiwan, mereka berusaha menyempatkan diri untuk hadir. Ada yang bergabung setelah selesai bekerja, ada yang mengikuti dari kamar, ada yang menyimak sambil menyelesaikan pekerjaan rumah, dan ada pula yang hadir meski tubuh telah diselimuti rasa lelah. Namun, ketika majelis dimulai rasa lelah seakan berubah menjadi semangat. Karena mereka percaya, lelah dalam kebaikan tidak pernah sia-sia. Di sinilah Sedap Malam menemukan maknanya. Bersama dalam belajar. Bersama dalam beribadah. Bersama dalam menjaga ukhuwah.
Kelompok Sedap Malam juga mengajarkan bahwa kerukunan bukan berarti tidak pernah memiliki perbedaan. Kerukunan adalah ketika perbedaan tidak menjadi alasan untuk menjauh, tetapi menjadi kesempatan untuk saling memahami.
Dan yang paling khas dari Sedap Malam adalah semangat "rukun agawe santoso." Karena kerukunan akan melahirkan ketenteraman, kekuatan, dan kebahagiaan. Perbedaan bukan alasan untuk menjauh, tetapi menjadi kesempatan untuk belajar memahami satu sama lain.
Maka kalimat:
“Yen ora rukun yoo dirukun-rukune to to yooo!”
Menjadi sebuah pengingat yang sederhana sekaligus menghangatkan hati. Kalau belum rukun, mari dirukunkan. Kalau mulai renggang, mari didekatkan. Kalau ada yang lelah, mari dikuatkan. Kalau ada yang tertinggal, mari digandeng bersama. Itulah warna Kelompok Sedap Malam. Dan itu pun kalimat sederhana yang penuh makna. Kalau ada yang kurang kompak, dirangkul. Kalau ada yang mulai menjauh, didekati. Kalau ada perbedaan, dibicarakan dengan hati yang lapang. Kalau ada kesalahpahaman, diselesaikan dengan saling memaafkan.
Sebab dalam sebuah keluarga besar, tidak mungkin semuanya selalu sama. Ada perbedaan karakter, pendapat, kesibukan, dan cara berpikir. Namun, yang membuat sebuah kelompok tetap kuat bukan karena tidak pernah berbeda, melainkan karena mampu tetap bersama meskipun memiliki banyak perbedaan.
Mereka mungkin hanya bertemu melalui layar, tetapi persaudaraan tidak selalu membutuhkan pertemuan secara langsung. Kadang sebuah sapaan, sebuah doa, sebuah pengingat, atau satu kalimat penyemangat sudah cukup untuk membuat seseorang merasa bahwa dirinya tidak sendirian.
Sedap Malam bukan sekadar nama sebuah kelompok. Ia adalah tentang semangat yang tetap menyala ketika malam tiba. Tentang jamaah yang tetap memilih belajar meski tubuh lelah. Tentang hati-hati yang tetap ingin dekat dengan ilmu meski berada jauh dari tanah air. Dan tentang persaudaraan yang tumbuh di antara para perantau di negeri orang. Karena semakin malam, semangat mereka justru semakin terasa. Semakin malam semakin sedap. Bukan hanya sedap dalam yel-yel, tetapi sedap dalam persaudaraan, sedap dalam kebersamaan, sedap dalam menuntut ilmu, dan semoga selalu sedap dalam keberkahan Allah Swt.
Bunga Sedap Malam juga mengajarkan bahwa keindahan tidak selalu harus terlihat sejak awal. Ada sesuatu yang justru semakin terasa ketika malam datang. Begitu pula dengan kebaikan. Kadang perjuangan kita tidak langsung terlihat oleh orang lain. Kadang keikhlasan tidak mendapatkan pujian. Kadang usaha untuk tetap istiqamah terasa berat. Namun, Allah melihat setiap langkah. Setiap kali kita membuka majelis. Setiap kali kita menyimak kajian. Setiap kali kita meluangkan waktu untuk belajar. Setiap kali kita mengingatkan dalam kebaikan. Setiap kali kita menjaga persaudaraan.
Tidak ada yang sia-sia di hadapan Allah, maka Sedap Malam teruslah menjadi bunga yang harum di tengah majelis. Harum bukan karena ingin dipuji, tetapi karena ingin memberikan manfaat. Tumbuh bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk menjadi bagian dari taman ukhuwah yang indah.
Mari terus menjaga semangat tholabul ‘ilmi. Mari terus menjaga kekompakan. Mari terus menjaga kerukunan. Mari terus saling menguatkan. Dan mari bersama-sama menjadikan majelis bukan hanya tempat berkumpul, tetapi tempat hati-hati kita semakin dekat kepada Allah. Karena pada akhirnya, yang kita cari bukan sekadar ramai dalam kebersamaan, tetapi keberkahan dalam persaudaraan.
Sedap Malam semakin malam semakin sedap. Semakin belajar semakin berilmu. Semakin dekat semakin rukun. Semakin bersama semakin kuat. Semakin istiqamah semakin berkah.
Kelompok Sedap Malam —bersama dalam majelis, rukun dalam persaudaraan, dan istiqamah dalam tholabul 'ilmi.